Rumah Sakit
Genre : Comedy and Daily
Jiwa yang sok kuat ini ada saatnya berteriak ingin rebahan saja. Ibarat Bumi yang beredar pada orbitnya kemudian dihempaskan keluar dari peredaran. Nggak pengen memanjakan tubuh, tapi perasaan bilang "Udah gpp, nggak akan baik kalau dipaksa terus menerus. Nggak apa-apa, sekali-kali kamu butuh istirahat".
"Capek"
"Capek, rasanya"
"Capek ya"
Hanya kata itu yang paling banyak keluar dari mulut aku, setelah insiden patah hati terhebat. Waktu itu aku masih semester 6, dan ini ujian terakhir di semester itu. Kenapa sih, kalau mau nyakitin tuh sesudah aku ujian kek, ini H-7 UAS eh. Mengesampingkan perasaan pribadi demi fokus ujian itu sulit. Apalagi pas lihat si doi dan pacar barunya upload foto ala-ala gitu dengan latar pantai dan senja.
Anehnya aku nggak nangis sama sekali, jelas-jelas tanpa rabun aku bisa lihat kalau ini menyakitkan, bahkan aku menantikan kapan air mata ini jatuh. Hal ini berakibat jadi sangkal dihati, beban dipikiran. Materi ujian seakan mengolok-olok "Ciee yang ditikung".
Responku? ya kesel lah. Aku langsung ambil semua kertas materi ujian, mau aku robek-robek aja. Eh, tapi kan besok open book, yaudah aku nggak jadi kesel. Ndang belajar wae. Habis belajar baru lanjut galau. Agak lucu memang, orang yang digalauin aja udah bahagia, lah aku? Bucin kamu Bunga.
Setelah 3 hari ujian, ada masalah dengan perutku, ini kayak tanda-tanda asam lambung aku kumat. Aku bilang ke Rosa
"Ca, kayaknya aku sakit deh, sakit lambung"
"Nggak kelihatan kayak orang sakit" sambil dia memperhatikanku
"Aku nggak bisa berekspresi kesakitan"
Aku juga bilang ke Leni
"Len, aku sakit maag kam, kalau parah mau ke dokter aja"
"Beneran sakit Bung?"
"Beneran leh"
Struktur mukaku ni, kalau sakit ya lempeng aja. Nggak kelihatan pucat juga, karena pake lipstik. Giliran aku sehat malah dikira sakit. Kayak beberapa kejadian
Aku sering GoFood makanan, kalau keluar kos, aku nggak pake lipstik dan bener-bener natural no bedak. Diluar ketemu temen, dia bilang
"Bung, kamu sakit? pucat banget"
"Ini nggak pake lipstik" ucapku
"Pantas, kirain sakit"
Pernah juga, waktu beli makanan di wins chicken sebelah kos, ketemu temen lagi
"Dek, sakit?"
"Nggak mbak, ini nggak pake lipstik"
Kulit aku itu putih pucat, 11 12 sama mayat hidup, kembarlah. Nggak heran kalau orang sangkanya aku sakit, padahal itu sedang bugar-bugarnya. Giliran sakit beneran, nggak ada yang percaya.
Akhirnya setelah dipaksakan buat ujian, siang itu aku memutuskan untuk berobat, dari pada tambah parah.
"Len, kawalin aku berobat ke Dr.Oen, sakit banget eh"
"Beneran sakit Bung?"
"Kan kemarin aku dah bilang"
"Nggak meyakinkan Bung"
Aku pun mengajak Oca untuk sama-sama ke RS Dr.Oen, karena sakitnya udah sampai nyeri uluh hati, aku memilih untuk ke IGDnya aja, sampai sana ditanya.
"Sakitnya dimana?"
"Di sini" sambil aku menunjuk bagian uluh hati yang sakit.
Kemudian perutku ditekan, rasanya sakit banget dah. Disitu baru aku bisa berekspresi kesakitan.
"Sakitnya sejak kapan"
"Sejak dia menyakitiku dok, sakit banget rasanya" hahaha nggak deng becanda, aku nggak mungkin bilang gitu.
"Udah 3 hari yang lalu dok, cuman sempat minum obat plantacid, tapi ini kambuh lagi"
Setelah di diagnosa, aku nebus obat. Hampir 400K obat dan biaya konsulnya. Demi mengobati hati harus keluar modal besar. Untung saat itu masih kerja, jadi bisa balik modal lagi uangnya.
Sesampainya di kos, dengan perasaan yang campur aduk, aku melakukan hal alay. Aku bikin story lagi di RS dan yang lihat doi doang. Berharap dia masih ada khawatir gitu. Ternyata di lihat aja, kan asem.
Obat hanya aku geletakkan di atas kasur, nggak ada niatan untuk diminum padahal rasanya perut ini semakin sakit. Dengan efek kesurupan nggak sadar aku DM dia
"Aku masuk rumah sakit"
"Udah nggak peduli ya?"
Dia balas "Yaudah aku VC ya"
Aku balas "Nggak usah"
Sakit banget asli perutku, dan akhirnya aku bisa nangis juga, dia VC aku, yaudah aku angkat (karena dulu bucin parah).
Bayangkan gengs, lagi nangis kayak anak kecil terus VC-an lagi sama dia. Pasti dia mikirnya kasihan banget Bunga, gegara aku tinggalin. Tapi ada yang aneh, kenapa seprai dikasurnya beda, bantalnya juga beda, biasanya kalau VC nggak gitu latarnya. Di tengah perbincangan dia menyuruhku untuk minum obat, tiba-tiba hapenya dipegang ceweknya.
Fix, dia lagi tiduran di kos cewek itu. Tangisku langsung berhenti saat itu juga, dan aku mengakhiri obrolan. Sial, besok masih ujian lagi.
Aku mengadukan kejadian yang baruku alami kepada sahabatku di Samarinda, yaitu Lukman. Lukman bilang
"Aku bukan ahlinya beri saran Bung, bentar aku chat Kukuh, aku suruh dia telpon kamu"
Nggak lama Kukuh sahabat aku telpon, dari jam 10 malam sampai jam 4 subuh, bahkan udah masuk waktu untuk sahur. Dari obrolan dengan Kukuh, dia semacam psikolog yang menanyakan ke diriku, tapi aku harus menjawab dengan diriku sendiri, sampai ketemu jawaban kalau suatu saat bisa menampar mereka dengan cara elegan.
Aku nggak perlu jadi orang jahat, aku nggak perlu ngejar-ngejar dia, aku nggak perlu mengikuti apa yang dia inginkan lagi. Cukup aku jadi diri sendiri, dan aku fokus untuk mencintai diriku sendiri, membahagiakan diriku sendiri, berjalan dengan kakiku sendiri.
Lumayan lama juga aku nangis dari jam 10 malam sampai jam 4 pagi. Pagi harinya aku memutuskan untuk tidak ikut ujian. Sekitar jam 10 pagi Oca datang membawakan aku soto.
"Bung, aku bawa soto nih buat kamu makan, masa gara-gara sakit hati kamu jadi sakit"
"Ih, mana ada, aku loh memang sakit"
Saat kejadian si doi sama cewek barunya, aku nggak ada cerita ke siapa-siapa, aku pendam sendiri, dan baru cerita cuman ke Lukman, dan Kukuh aja. Leni dan Oca hanya tahu garis besar, tapi nggak tahu rinciannya.
Aneh bin ajaibnya, setelah hari itu aku nggak pernah menangisi orang itu lagi. Aku bisa berdamai dengan diri sendiri, dan memutuskan untuk tidak merasa insecure akibat body shaming yang dia berikan dahulu. Pun aku sadar 1000% kalau selama ini aku salah menyayangi seseorang.
Setelah beberapa hari setelah ujian dia masih menghubungi dan niat banget ingin menjodohkanku dengan temannya. Dia mati suri sejak lama, datang tanpa bawa muka, padahal ada maaf yang harus dibawa.
Aku sudah tidak tertarik dengan dunia dia, aku sudah mati rasa, rasanya kosong. Instagramku juga mereka berdua block, sampai suatu hari blocknya mereka buka, dan aku gantian block mereka. Bukan aku seperti anak kecil, kalau hal itu menurutku terbaik untuk diriku, maka aku lakukan.
Aku sudah tidak tertarik dengan dunia dia, aku sudah mati rasa, rasanya kosong. Instagramku juga mereka berdua block, sampai suatu hari blocknya mereka buka, dan aku gantian block mereka. Bukan aku seperti anak kecil, kalau hal itu menurutku terbaik untuk diriku, maka aku lakukan.
Aku berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, padahal aku punya banyak dosa, tapi setidaknya aku sudah memutuskan lingkaran setan itu.
Obat yang aku tebus di rumah sakit, hanya sekali aku minum, sisanya aku simpan. Ternyata air mata yang selama ini tertahan adalah obat yang paling baik untuk menyembuhkan. Bertemu orang baru, dan menemukan orang baru adalah bonus yang di beri Tuhan.
Kalau di ingat-ingat lagi, ke IGD gara-gara sakit hati, astaga Bungaa. Bucin kronis.
Bukan hanya itu aku masuk RS
Aku pernah masuk RS, ini pernah aku ceritakan di Catatan April 2019. Jadi karena banyak pikiran, sekresi asam lambungku meningkat apalagi ditambah makan-makanan pedas. Awalnya aku di IGD nya, tapi gara-gara mukaku yang lempeng dan seolah lagi nggak sakit, akhirnya aku disuruh dibagian rawat jalan. Padahal itu rasanya udah kayak mau pingsan. Eh nggak deng becanda, aku nggak pernah pingsan, jadi nggak tahu rasanya gimana.
Rasanya sakit yang teramat sakit banget, sampai aku mikir jangan-jangan ini disantet orang karena macam ditusuk-tusuk jarum, taraf sakitnya sampai nggak bisa berkata-kata.
Aku berobat ditemani Leni. Hal yang paling ngeri adalah disuntik, aku takut banget. Tapi setelah disuntik aku muntah-muntah, kata susternya itu efek samping dari obat. Di sana aku dah mau meraung-raung kayak harimau, disela-sela gitu aku masih mikir jangan-jangan aku dimasukin siluman harimau hahaha.
Akhirnya aku balik kos, aku muntahkan semua makanan, dan tidur akibat minum obat. Leni nemanin di kos sampai sore. Malamnya Oca datang dari luar kota, sambil bawa bakso. So sweet kam teman-temanku ni.
Kali ini aku rutin minum obat sampai habis, karena air mata nggak cukup untuk nyembuhin wkwk. Keadaanku berangsur-ansur membaik, dan fokus lagi untuk skripsian dan KKN.
Setelah selesai KKN aku masuk rumah sakit lagi, dengan sakit yang sama. Konyol sih ini, akibat kopi, senja, kopi, senja, lambung aku nggak kuat. Anak indie bukan style aku, kaum rebahan baru cocok di aku, aku cinta banget dengan kaum ini. Kamu juga cinta nggak? sama kaum ini maksudku.
Aku masuk dirawat jalan, ditemani Leni, Oca, Wenny. Rame banget dah. Sebulan selama KKN itu padat luar biasa, rebahan aja nggak sempat. Jam 7 pagi sampai 1 siang di posko, jam 1-2 siang bimbingan + nyuntik tikus, jam 3 sore -7 malam ngajar TPA, jam 7 malam dst rapat, pulang-pulang masih kerjakan skripsi. Dan hal lain mengenai skripsi yang you know lah, ribetnya.
Apalagi tiap hari terpapar sama tikus, duh tambah jadi penyakit. Tapi ini nggak ada hubungannya dengan mie instan, karena aku sendiri sebulan maksimal 2 kali makan mie instan. Pertama pas di Tawangmangu, kedua pas hujan deres. Jadi nggak semua anak kos, makannya mie instan terus.
Rumah sakit Dr. Oen ini juga saksi bisu penyakit Leni dan Oca.
Habis pulang dari Singapur Leni sakit anemia katanya, selama perjalanan dia muntah-muntah, dan nggak menikmati study tour. Kebetulan aku juga beda kloter sama dia, jadi aku tahu kabar dia sakit pas sudah sampai solo.
"Len, aku ke kosmu mau jenguk"
Akhirnya aku pergi ke kosnya sendirian, dia kelihatan sehat, cuman agak sedikit pusing.
"Len, apa nggak vertigo kamu tuh"
"Nah iya aku juga mikirnya gitu, tapi dah enakan ni"
"Aneh kamu Len, giliran naik Lion tegar aja, pas naik Garuda kamu pusing hahaha"
"Iya nah, bisanya"
Di sela-sela obrolan, dia bilang pas di Singapur dia makan nasi goreng india gitu, yang bumbunya kari. Dari situ dia pusing, nah mungkin gegara rempahnya yang terlalu to much.
Sore harinya dia kambuh, nggak bisa lihat cahaya sama sekali, pusing buminya berputar. Kayak jatuh cinta wkwkw. Kebetulan Oca pas chat aku
"Bung, aku mau jenguk Leni, otw aku ke sana"
"Lakas Ca, Leni kumat, mau berobat"
Oca dengan kecepatan cahaya datang. Akhirnya kami gonceng 3 bawa Leni berobat. Tapi itu hari minggu, di Solo rata-rata hari minggu pada tutup. Apotek tutup, klinik tutup, praktek dokter tutup, semua tutup.
Leni kami dudukan ditengah motor, dengan ditutupi jaket bagian atas kepalanya. Udah kayak penculik pro kami. Sepanjang jalan mencari pengobatan kami ngelawak, dan Leni ketawa-ketawa aja.
Pilihan terakhir kami pergi ke Dr. Oen, kami antar ke IGDnya, Leni udah lumpuh, lemas, dan nggak bisa buka mata. Kami merasa bersalah, soalnya sepanjang jalan kami ngelawak bae, nggak tahu kalau kondisinya sekritis ini.
Dia segera ditangani oleh dokter, diperiksa. Oca mendatangiku diluar sambil berkata
"Bung, Leni parah banget i, takut aku"
"Iya eh Ca, pucat banget"
"Itu dia minta resepnya obat aja, nggak mau disuntik, apa suntik aja ya?"
"Iya, bilang Ca ke dokternya"
Akhirnya Leni disuntik tanpa dia tahu hahahaha. Pas kejadiannya sudah berlalu dia ada menanyakan ke aku
"Bung, perasaan waktu itu aku minta obat aja, kok jadi disuntik ya?"
"Hahahaha, maaf Len, itu kami yang minta ganti ke dokternya"
"Pantesan, aku loh kaget. Tapi karena sudah lemas, jadi pasrah aja"
"Hahaha"
Malam itu sekitar jam 9 malam, Leni terbaring di ruang IGD. Tiba-tiba dia menggeliat. Aku sama Oca panik, panik banget.
"Len, Len, kenapa?" tanya kami
"Kebelet pipis"
Kami langsung datangi staffnya dan bilang
"Dok, teman kami kebelet pipis" dengan muka kami yang panik
"Gpp mba, itu efek samping dari obat yang disuntik tadi"
Kami balik lagi ke ruangan Leni sambil bilang
"Tahan aja Len, baru disuntik soalnya, itu efek samping"
"Nggak kuat" ucapnya
Kami ke tempat tadi sambil bilang
"Mba, teman kami nggak kuat !!!" dengan wajah kami yang masih panik.
Setelah itu Leni dilarikan ke WC dengan tempat tidurnya, jadi kami ala-ala gitu, dorong-dorong tempat tidur. Karena kondisi Leni yang bisa sewaktu-waktu lemas dan pingsan, jadi kami memutuskan untuk masuk bertiga di dalam kamar mandi.
"Kami hadap sini Len, nggak akan lihat" Hahaha
Kami pun memanggil Juniarto untuk datang ke rumah sakit, sekitar 8 menit dia sudah tiba, gesit banget. Aku dan Oca memutuskan untuk keluar, dan pergi ke alfamart untuk membeli roti dan aqua botol.
"Jun, kami tinggal dulu ya, lapar"
Aku dan Oca membeli roti dan aqua, ketika sampai di depan kasir ada mie sedap cup. Mata Oca tertuju pada mie itu, sambil menoleh kehadapku dia berkata
"Bung, makan mie dulu yok, Leni kan nginap disana, biar kita nggak lapar"
"Ayok dah"
Dengan mie yang baru diseduh, serta bumbu yang baru saja dibuka, kami menerima telpon dari Juniarto
"Kalian dimana? Leni sudah disuruh pulang ni"
Aku pun bertanya pada Oca
"Ca, katamu bisa nginap"
"Ya aku mikirnya, masa ada orang tega ngususir orang sakit Bung"
"Ya ampun Ca, itu kan rumah sakit, ya tega aja lah, jadi kamu sebenarnya nggak tahu kah kalau IGD itu nggak nginap"
"hehehe nggak tahu Bung"
"Aduh, maka mienya masih panas lagi" Dengan lidah yang melempuh kami paksa makan sampai habis mienya.
Kami lari-lari sampai rumah sakit. Kami pun pulang mengantarkan Leni hingga kamarnya, dan masih sempat nongki hingga jam 1 malam.
Oca juga berurusan dengan rumah sakit ini.
Waktu jaman skripsian, sekitar bulan maret. Aku mau tidur siang, mumpung ada sehari longgar, kapan lagi bisa mewujudkan cita-cita yang satu ini.
Lampu sudah dimatikan, tiba-tiba dapat telpon dari Oca, aku sebenarnya nggak mau angkat, karena dia sering VC dan nelpon nggak jelas, kadang sekedar menanyakan
"Bung, kamu ngapain?"
"Kan kamu dah seharian di kosku Ca, ngapain masih VC, matikan kadak"
atau
"Bung, pasti lagi nonton doraemon"
"Itu tahu, ngapain VC"
atau
"Hahahaha lagi maskeran, aku screenshoot dulu"
"Jangan Ca"
Intinya dia gabut. Tapi hari itu aku angkat, dan kalimat yang pertama keluar dari mulut dia adalah
"Bung, darahhhh" sambil terdengar isak tangis
"Darah apa? kenapa?"
"Bung, ke sini"
"Ke sini ke mana?"
"Darah Bung"
"Iyaa dimana aku samperin"
Tiba-tiba yang ngomong suara laki-laki
"Mba, ini temannya berdarah"
"Iya, dimana?"
"Di lab 9, tangannya kecucuk pipet"
"Yaudah aku kesana"
Sayup-sayup terdengar jelas Oca bilang
"Cepat Bung, nggak kuat"
Aku langsung bangkit dari tempat tidur, pake celana, jaket, dan bawa rivanol serta perban yang aku punya. Sampai di depan kos ternyata hujan, aku balik lagi ke kamar, ambil payung punya Leni hehehe, aku nggak punya payung kebetulan payung Leni ditinggal di kamarku.
Tahu nggak sih kalian, kalau lari tapi sambil buka payung tuh gimana? apalagi aku kurus. Setelah bergelut dengan angin, aku sampai juga ditangga menuju Lab, di situ Oca sudah dibopong menuju bawah, dengan tangan yang memegang perban. Dia masih menangis, tangisannya besar-besar kayak butiran kacang, fix ini pasti lukanya parah.
"Bung, pesan GoCar, kita ke IGD"
Terus Pak Tikno bilang "Tadi mau saya bawa untuk di bersihkan dulu darahnya, tapi dia nggak mau"
"Nggak usah pak, saya ke IGD aja" Ucap Oca
Aku pun memesan GoCar, kami menunggu di depan gerbang kampus, dekat pos satpam, Oca masih konsisten dengan tangisannya. Dia sambil tersedu-sedu berkata
"Bung, aku takut di jahit, tadi banyak banget darahnya"
"Kok bisa kecucuk pipet tu nah"
"Aku pertahankan fraksiku Bung, jadi malah tangan satunya kena pipet"
Aku nggak berani lihat lukanya, karena sepertinya sangat dalam, dan untung saja ditutupi kapas. GoCar kami datang, di tengah perjalanan dia bilang
"Bung fotokan dulu tanganku" habistu dia lanjut nangis lagi.
Tiba juga kami di IGD, kami pun ditanya keluhannya apa, Oca berkata "Kena pipet"
"Ini kemasukan beling mba" ucapku
"Tolong tangani ini dulu, tangannya berdarah kena pipet" Ucap salah satu staff di RS.
Oca masuk ruang tindakan, nggak lama datang perawat laki-laki. Oca teriak-teriak ketakutan, aku pun semakin penasaran, sedalam apa lukanya.
Lukanya dibersihkan perlahan-lahan, dan zonk ternyata. Kayak ditusuk jarum pentul astagaa, ku ingat lagi perjuangan aku lari-lari.
"Mana lukanya ini?" kata perawatnya
"Tadi darahnya banyak, keluar naik ke pipetnya" sambil Oca mengklarifikasi
"Bentar, mau di cek dulu, ada kaca yang ketinggalan nggak didalamnya"
"Aaaaaaa" Oca masih dramatis
"Jangan teriak, ini loh mau dicek dulu bentar"
"Takut di jahit"
"Lukanya kecil ini setitik, nggak mungkin dijahit" Kata perawatnya
Beransur-ansur tangisan Oca berhenti, lukanya pun di plester, dengan masih menjunjung tinggi rasa malu dia berkata
"Mas, plesternya agak besar ya, soalnya malu kalau besok ngeLab ternyata lukanya nggak kelihatan"
Sesuai permintaan akhirnya dibikin agak besar dah tu plesternya.
Pas kebagian administrasi, ternyata no biaya dong, soalnya cuman dibersihin hahahaha. Habistu kami lapar, dan dari RS Dr.Oen kami jalan kami lumayan jauh, dan nemu bakso.
Tangan Oca langsung bisa buat makan dong, pro memang.
"Ca, kerjain Leni yok, aku kirim fotomu yang tadi"
Nggak lama Leni respon, dan mau nangis, akhirnya aku VC
"Taraaa Len, kami lagi makan bakso, lukanya Oca kecil banget dah, ku kira dalam"
"Kalian ni bikin panik aja, aku dah mau kerja lagi, sedih nggak bisa ikut"
Kami balik ke kos pake GoCar, sampai di depan kosku aku menawarkan bantuan
"Ca, mau aku antar kah? bisa nggak naik motor?"
"Bisa Bung, aku lewat pintu belakang nanti, soalnya malu sama pak satpam, masa sudah nangis-nangis eh pulangnya langsung bisa naik motor"
"Hahahahaha"
Begini lukanya
Belum lagi insiden Oca sakit gigi
"Bung, temanin aku ke RS gigi dan mulut na, gigiku bengkak"
"Okay aku siap-siap"
Kami menuju ke RS gigi dan mulut, di situ Oca di periksa dan di kasih Obat. Karena ini RS baru, munculah sifat petualangan kami. Kami naik tiap lantainya, dan kepo abis.
Sampai dilantai 5 kami ketahuan orang dong, langsung buru-buru lari dan ke pergok. Yaudah kami alasan aja nyasar. Untung masnya percaya.
Habis dari situ, kami makan kare, kasihan pipi Oca bengkak banget dah. Tapi berangsur-ansur pulih kok.
Sakit itu wajar, mungkin kalau sudah tidak ada pilihan baru kami ke RS, kalau cuman sakit biasa mah diajak rebahan juga bisa sembuh sendirinya. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan ya.
Sebenarnya rasa sakit itu wajar, yang nggak wajar itu kalau sengaja diam di tempat, berdiri diatas pisau, yang jelas-jelas ada jalan rumput yang lebih aman dilalui. Kamu hanya tinggal berjalan, hingga terlalui sendirinya, pelan-pelan enggak apa-apa, jangan berusaha dilupakan, kerena manusia diciptakan untuk mengingat bukan melupakan.
Sebenarnya rasa sakit itu wajar, yang nggak wajar itu kalau sengaja diam di tempat, berdiri diatas pisau, yang jelas-jelas ada jalan rumput yang lebih aman dilalui. Kamu hanya tinggal berjalan, hingga terlalui sendirinya, pelan-pelan enggak apa-apa, jangan berusaha dilupakan, kerena manusia diciptakan untuk mengingat bukan melupakan.
Btw aku nemu chat kita jaman semester 6 ni gengs.
![]() |
| Ini waktu jamannya aku kerja, karena aku jarang tidur. Tidur bisa sejam atau dua jam paling banyak, jadi untuk jaga-jaga minta tolong Leni bangunin, supaya nggak telat kuliah. |
![]() |
| Anehnya kalau dia ngeh masuk jam 7, kenapa dia baru sampai kampus jam 7.20 |


















Comments
Post a Comment
Komentar dong, aku mau tahu ni perasaanmu setelah baca tulisan ini