Catatan April 2019

Genre : Curhatan


Hakikatnya semesta sudah merencanakan segala rencana
Kehendak manusianya saja yang egois
Tapi mau bagaimanapun 
Apa yang sudah tergambar
Sulit untuk dihapus
Mungkin akan lebih mudah jika menggambarnya lagi
Dengan bentuk dan bingkai yang dipercantik
Hingga kesan suram itu hilang
Aku muak berjalan pada tempat yang sama
Ini sudah april
Oksigen baru
Langit yang baru
Teruntuk april 2019
Kaca-kaca yang retak
Sudah berganti baru
Terasa bebas
Tidak ada lagi yang menahan
Rantai masa lalu 
Jerat membelenggu
Aku angkat tangan
Tanda tidak menyerah
Hanya simbol kebebasan
Sambil aku bertepuk tangan
Melangkah maju
Membuang sampah pada tempatnya
Mengokohkan kaki lebih dari biasanya
Menguras otak tanpa ampun
Langkah demi langkah
Aku hapus semua
Wajar bila aku tidak mengingat hal yang sepatutnya tidak perlu diingat
Ini Bunga persembahkan untuk Aku


-Solo, April 2019-

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Edit  16/04/19 :
   Sebulanan kebelakang, aku merasakan depresi berat. Awalnya aku nggak pengen cerita ini, tapi ada baiknya juga sharing. Banyak faktor yang aku pertimbangkan, sampai aku berani buat cerita di sini.

   Jadi gini problemnya, aku ngerasa hampa, kosong, dan bener-bener nggak niat ngapa-ngapain sama sekali, kayak punya masalah berat tapi nggak ngerti apaan, awalnya aku pikir "Oh, mungkin skripsian" tapi setelah dipikir lagi, semua anak semester akhir pasti juga ngerasakan, ini bukan alasan yang kuat untuk bisa dianggap aku mengalami depresi. Dari segi keuangan baik-baik aja, semua aku list satu persatu mengenai hidupku dan nggak ada problem sama sekali. Beberapa hari kebelakang aku menyembunyikan depresiku sendirian, aku bingung kalau cerita ke teman juga dari mana, dan bingung juga problem yang mau diceritakan itu apa? akhirnya aku memilih diam.

   Selama tragedi itu, mood aku bener-bener hancur parah, mudah tersinggung, tapi tetap nggak bisa marah. Aku berusaha sembunyikan dengan bersikap seperti biasanya. Aku masih hahaha hihihi bareng teman-teman. Padahal rasanya pengen pergi ke gunung dan teriak kalau  "SAYA DEPRESIIII". 

   Pikiranku penuh, yang aku juga nggak paham, aku mikir apaan? kepalaku jadi sakit, aku meluapkannya dengan makan-makanan pedas. Katanya makan pedas, bisa bikin sakit kepala hilang. Mungkin karena sedang tertekan, dan makan pedas terus menerus, akhirnya fisik ini nggak bisa bohong. Aku masuk rumah sakit.





   Ternyata aku kena maag, ini maag terparah yang aku alami, soalnya terakhir kali kayak gini pas SMK. Rasanya tangan dingin, badan gemeteran, perut kayak ditusuk-tusuk, sampai aku sempat mikir apa ini disantet orang ya? sumpah sakit banget, bahkan setelah disuntik dan minum obat itu sakitnya masih nggak bisa dideskripsikan. (Bagian ini di skip, akan aku ceritakan di tema blog yang lain).

"Perasaan kamu makan teratur aja Bung, kok bisanya sakit maag?"
"Nah itu dia, mungkin karena aku makan pedas terus"

   Bukan hanya pikiran aku yang sedang sakit, fisik aku juga.

   Beberapa masalah pertemanan pun muncul ditengah kedepresianku, hal kecil antara aku, Leni, dan Oca. Tapi semua sudah selesai saat itu juga, bahkan Leni tidak aku beritahu masalahnya apa? jujur aku masuk dalam fase sangat tertekan, dan nggak bisa bercerita apapun.

   Bisaku cuman nangis tiap hari. Aku ingat banget pagi itu sebelum ke Lab Leni nanya "Bung, matamu bengkak, habis nangis ya semalam?" Aku jawab santai "Nggak lah, lagian apa juga yang mau ditangisi".

   Aku sendiri juga heran, kenapa depresi bisa mendatangkan sedih yang teramat sedih. Biasanya aku menulis untuk perbaiki mood, tapi untuk pertama kali aku nggak suka nulis. 

   Akhirnya aku cerita ke Lukman, sahabatku. Kenapa Lukman Karena dia jauh dari Solo. Kalau cerita ke sahabat terdekat, aku takut mereka khawatir, dan akhirnya aku membebani mereka. Dan kalau cerita keorang tua, aku juga takut mereka kepikiran.

   Respon Lukman gini :

   Di akhir obrolan aku bilang ke dia
"Luk, kayaknya aku tau deh problemku apaan?" 
  Lukman ngeread aja, nggak balas, i don't know why? dan juga peryataanku tadi sebuah kebohongan, karena aku ngerasa nggak dapat solusi, agar dia tidak terbebani dengan ceritaku, jadi aku bilang aja aku udah tahu masalahku

   Aku pernah bilang ke Oca
"Akhir-akhir ini aku malas banget buka instagram, story orang aja kadang aku buka, tapi aku nggak lihat, aku tinggal mandi, jadi terplay sendiri sampai habis"

   Rasanya aku pengen menarik diri dari dunia maya, sempat aku kosongkan fotoku di Instagram. Tapi aku tetap buat story, sekedar menunjukan aku baik-baik aja
   

Aku ingat banget, kalau Andovi da Lopez pernah mengalaminya


   Kalian bisa nonton videonya. Itu sama persis dengan yang aku alami akhir-akhir ini. Biar kalian paham juga maksud kata "depresi" itu seperti apa.

   Kehadiran teman-teman dikos sedikit membantu dan buat aku lupa sejenak kalau sedang depresi. Makanya aku senang kalau ada yang nginap. Mereka bukan beban, malah aku suka kalau kosku rame. Paling nggak aku tidak sendirian.

   Dan puisi diatas itu dimana tingkat depresiku sudah mulai mereda, dan yang ada dikepalaku saat itu, hanya barisan kata yang segera aku muat dalam blog ini. 

  Aku tipe orang yang suka memperhatikan orang, tapi aku berusaha menutupi apa pun masalahku, bebanku, agar tidak ada seorang pun yang tahu.

   Kini depresi itu sedikit-sedikit hilang, makanya aku bisa nulis lagi. Aku harap tahun depan tidak ada catatan april lainnya.



Oh iya, jika ada yang mikir mungkin karena kurang ibadah makanya jadi depresi (ibadah cukup saya yang tahu), coment nitizen ini mewakilkan aku.









Comments

Popular posts from this blog

Apa itu prepare?

Perkenalkan Namanya Masalah

Katakan Putus