Katakan Putus
Genre : Comedy and Daily
"Kenapa sih kalian tuh habisnya berbarengan" Ucapku pada shampo, sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi, toner, cream wajah, air galon, yang kerja sama untuk membuat uangku habis sebelum waktunya. Dari pada berbicara lebih lama pada benda mati, aku memilih untuk segera mencatat apa saja yang mau di stok sambil berusaha menghilangkan lagu-lagu Tik Tok yang terngiang-ngiang di kepala.
Parah nggak sih? lagunya tuh candu banget. Aku udah berusaha mengalihkan dengan lagu lain, tapi angkasa raya nggak mengijinkan. Aku mau cerita, jadi ini kejadiannya baru-baru aja. Di suatu hari Bunga suri terbangun, langsung mengambil hape, ngecek WA mau ngabarin mas pacar, ternyata lupa kalau mas pacar hanya di dunia mimpi.
Untuk mengembalikan mood karena menerima kenyataan bahwa mas pacar hanyalah mimpi, akhirnya aku membuka Spotify dan melihat tulisan 'Lagi Viral', kemudian aku klik. Setelah di dengarkan ternyata itu lagu-lagu yang ada di Tik Tok. Usahaku untuk mengilangkan lagu ini di kepala ternyata sia-sia, semakin dilupakan, malah candu. Yaudah, aku putuskan untuk menikmatinya. Pilihan yang tepat.
Tapi kurang nikmat jika hanya mendengarkan lagunya, tanpa mendownload aplikasinya kan? Aku pun mendownloadnya. Udah coba buat videonya belum? Udah dong, pake ditanya hahaha. Konsumsi pribadi aja, nggak buat di share, tapi karena aku bangga sama hasilnya, akhirnya aku share ke teman terdekat. Gini to sensasinya buat video tik tok untuk pertama kali, sambil bertepuk tangan memberi reward untuk diri sendiri.
"Hobi mu apa?" Tanya seorang pemilik hape bernomer 20
"Tidur, nulis" Ucapku, seorang pemilik hape bernomer 19
"Kamu?" Sambungku
"Main game"
Sekarang aku punya hobi baru. Baperin anak orang? Iya, eh bukan, sembarangan loh. Hobiku sekarang pantengin storynya hahaha, itu hobi sampingan kok. Hobi baru yang sesungguhnya adalah memfoto langit.
![]() |
| Iya ini second account |
Menawan kan langitnya? Jangan terlalu menawan, kasihan yang berharap. Apaan sih Bunga. Ngomong-ngomong aku punya back story ni tentang langit. Dulu sekitar kelas 7 SMP, awal-awal punya hape ada kameranya, kesempatan ini aku gunakan dengan baik. Aku mengambil foto awan-awan yang unik, bentuknya macam-macam, ada yang bentuk mantan, eh salah maksudku hewan, manusia, benda mati, yang sekiranya unik ketika aku lihat.
Bahkan nggak pernah absen, jadi bener-bener tiap hari aku foto langitnya. Sampai suatu hari aku mengambil awan berbentuk wajah kera. Selang 3 hari kayaknya, aku di mimpiin, seperti biasa diriku mengalami lucid dream. Di mimpi itu, aku sedang berada di luar rumah, keadaan sedang terik-teriknya.
Entah bagaimana tiba-tiba ada manusia kera yang turun dari langit, badannya tinggi, besar. Aku pun berlari masuk ke dalam rumah, dan bersembunyi di kamar. Tubuhku dingin serta berkeringat, perasaan was-was takut akan sosok itu, berharap dia tidak menemukanku.
Terdengar suara langkah yang semakin dekat dengan kamarku. Dugaanku benar, dengan cepat dia masuk dan menemukanku yang berada di ujung kamar. Sosoknya yang tinggi besar, berjalan layaknya kera, dengan wajah yang sebagian tertutup bulu, mendekat perlahan ke arahku.
Setelah sosoknya berada di depan wajahku dia berkata "Hapus semua foto awan yang ada di hapemu", aku hanya mengangguk mengisyaratkan 'iya'. Kemudian dia pergi dan aku terbangun dari mimpi.
Setelah bangun tubuhku masih menggigil ketakutan, antara percaya dan tidak. Tanpa berpikir panjang, aku menghapus semua foto yang ada di hape saat itu juga. Perasaan campur aduk, antara sayang banget di hapus, dan takut kalau dia datang lagi karena aku nggak menepati perkataanku.
Masih di tempat tidur, sehabis menghapus foto. Aku mencoba mengingat lagi struktur wajahnya, sosoknya nggak asing, kayak Sung Go Kong di film Kera Sakti. Nggak mirip 100%, tapi 11 - 12 lah.
"Kera sakti~, tak pernah berhenti bertindak sesuka hati~ " Malah nyanyi. Aku lanjutkan ceritanya ya, sampai mana tadi? Oh iya aku ingat.
Nah, semenjak itu tiap aku lihat senja seindah apa pun, langit seunik apa pun, doi yang karismatik pun, aku nggak berani foto. Takut kalau di datangi lagi, asli serem banget, kalau di film kan lucu tuh, kalau ketemu beneran yang serupa, malah nggak ada lucu-lucunya.
Sewaktu aku merantau, ceilahh bahasanya merantau. Aku ralat. Ketika aku menimba ilmu di Kota Solo ini, jujur langitnya bagus banget, apalagi ada latar gunung yang kelihatan dari daerah mojosongo. Perlahan rasa traumaku menghilang, beberapa moment aku abadikan lewat foto, tapi waktu itu masih belum berani ambil foto banyak-banyak. Dan sekarang seorang Bunga Lia sudah berani mengambil foto awan dan langit lebih banyak lagi. Akhirnya bisa melawan rasa trauma sendiri.
Tiap langit yang di foto, terselip kisahnya masing-masing. Jadi kamu kapan mau bikin kisah di langit bareng aku? Percuma Bunga, kamu ngekode, orangnya belum tentu baca tulisanmu wkwk. Asem. Dan begitulah awal mula dari hobi baruku.
Aku jadi teringat sesuatu, aku nggak tahu ini masuk kategori hobi atau bukan. Waktu semester 1, tiap pulang kuliah aku nyempatkan nonton Cinta Musim Cherry di kamar kos kak Dini. Lirik lagunya gini :
Oh masih ada kah cinta yang abadi
Menyatukan dua hati saling isi
Daun pun menari alam bersaksi seindah musim cherry
Kalau kamu bacanya sambil nyanyi, berarti kita seangkatan. Entah kenapa dulu aku dan Oca teman sekamar aku. Bucin banget sama serial drama Turki ini. Tapi eksistensi drama ini lekang oleh sibuknya kuliah, karena ketinggalan banyak episode, akhirnya aku nggak nonton drama ini lagi, dan beralih ke Katakan Putus.
Gara-gara si Komo, sampai sekarang aku kalau panggil sekawanan orang dengan sebutan "Gengs". Misalnya "Gengs, mau makan apa kita?". Dan gara-gara reality show Katakan Putus ini, tidur siangku jadi terganggu. Kok bisa? Meh tak jelaskan.
Aku, Oca, dan Selvi di awal-awal semester juga suka nonton TV di kamar kos kak Ovi. Tapi kak Ovinya kuliah, kamarnya dipercayakan ke kami. Siang itu kami bertiga di kamar kak Ovi, bersiap-siap tidur siang, dan sudah pasang alarm 14.30 untuk bangun dan menonton Katakan Putus. Seniat itu? SANGAT.
Aku yang notabennya hobi tidur, merelakan waktu tidurku yang berharga untuk terbangun nonton Katakan Putus, berartikan ini penting banget. Kami bertiga akhirnya terlelap tidur, dan ketika alarm nyala, Selvi yang bangun duluan dengan sigap menyalakan TV mencari channel Trans TV dan segera membangunkan Aku dan Oca. "Bangun weh, udah mulai ni Katakan Putus" sambil tangan Selvi mengoyangkan badan kami.
Aku dengan mode mengumpulkan nyawa, langsung menyimak acara tersebut. Seiring dengan masuknya ke jalan cerita, tubuh yang semula berbaring, kini beranjak duduk dan tangan tidak henti-hentinya memukul bantal karena geregetan.
"Cepat Komo, kejarrrr"
"Cepat woy, nanti ketinggalan"
"Nah, malah nabrak orang"
"Pake acara nabrak segala lagi"
"Iya eh, jadi nggak terkejar lok"
"Komo ni juga, emosian banar kam"
Kurang lebih begitulah percakapan kami bertiga. Saking terbawa suasana, selesai menonton kami masih membahasanya.
"Gila, ada ya cowok kayak gitu"
"Iya eh, kasihan kam ceweknya, aku kalau jadi ceweknya udah ku putusin dari dulu"
Kalian tahu nggak? Salah satu penyebab aku dulu nggak mau pacaran adalah gegara nonton Katakan Putus tiap hari hahahaha. Aku dan Oca kayak trauma gitu, takut kalau yang di Katakan Putus, terjadi sama kita.
Tiap hari kami lalui dengan menonton Katakan Putus, bahkan ketika kuliah sampai sore dan nggak sempat untuk nonton, ada saja antara Oca dan Selvi yang menceritakan ulang episode Katakan Putus di hari itu kepadaku. Terharu nggak sih.
Tapi semua sirna ketika aku mengetahui bahwa Katakan Putus selama ini adalah settingan. Kampret nggak? Aku rela memotong waktu produktif tidur siangku hanya untuk nonton Katakan Putus. Aku pun rela nggak berpacaran karena takut ketemu cowok macam di Katakan Putus. Sumpah, dibohongi itu nggak enak.
Menjadi anak kos itu nggak perlu bakat, yang penting niat, usaha, serta lambung yang bisa diprogram mode lapar dan kenyang. Jiwa yang sedang muda-mudanya ini bertarung di tanah rantau, bergelut dengan yang namanya mata kuliah, jatuh bangun mengejar gelar sarjana, tapi mudah sekali patah dengan yang namanya cinta.
Kalau di pikir juga ada sisi positifnya sih, dari menonton Katakan Putus kita bisa memetik hikmah bahwa ketika cowok berusaha masuk ke dalam kehidupan si cewek, paling enggak kalau mau pergi, jangan lupa ditutup dengan sopan santun, minta hatinya pakai permisi kan? Masa perginya lewat jendela.
Minta maaf bukan cuma lewat chat, lebih baik dikatakan langsung. Biar penghuni yang baru datang, nggak terlalu repot menata ulang. Kalau yang kemarin aja belum termaafkan, kasihan yang baru datang kerjanya jadi dua kali. Penghuni baru akan susah payah membantu menghilangkan trauma, dan bersusah payah mendapatkan sebuah kepercayaan. Nah lok, malah curhat hahaha.
Btw, sebentar lagi aku akan menambah hobi baru dalam waktu dekat, kalau nggak mager wkwk. Jadi aku dah punya aquarium, udah aku isi pernak-pernik aquarium dan sudah aku tuang airnya sampai penuh, tapi belum ada ikannya. Lah, kenapa belum ada ikannya tapi sudah kamu kasih air? Iseng aja.
Belum ada money buat beli ikan dan lain-lainnya, gegara itu tuh yang aku ceritakan di awal. Mereka habis berbarengan sih, tekor lah kalau aku beli ikan juga. Kalau aku habiskan, nanti aku makan pake apa? Ya masa aku makan makanan ikan. Tapi serius, aku nggak sabar menyambut kucing di kamar kos ku tercinta ini. Iya, ikannya mau aku namakan kucing.
"Nanti aku mau pelihara ikan" Ucapku
"Aku mau pelihara kucing, lucu soalnya" Ucap pemilik hape bernomer 20
"Nanti ikanku mau ku kasih nama kucing" Ucapku
"Biar kalau kasih makan bisa bilang 'Aku mau kasih makan kucing dulu' padahal itu ikan" Lanjutku
"Hahahaha terus kalau aku punya kucing, masa aku kasih nama ikan"
Hikmah dari ceritaku adalah enggak ada hahaha, aku cuman mau pamer aja kalau punya hobi baru. Jangan mengharapkan inspirasi, aku bukan manusia pengabul ekspektasi.






Disapa tuh sama langitnya
ReplyDeleteUdah selesai ku baca sampai abis, lumayan ngabisin waktuku wkwk semangat nulis yaak.
ReplyDeleteMakasih
Delete