Me Time

Genre : Daily and Comedy

    Seperti biasa, aku lagi insomnia dan baru bisa tidur nanti jam 6 pagi. Sekarang aku lagi dengarin lagu di playlist Spotifyku, ternyata kalau mendengarkan lagu di jam segini kok rasanya kayak diajak ngomong, tapi lebih ke arah nyindir sih, bisaku cuman "asli, ni lirik lagu nyindir amat ya". 

     Banyak kegiatan yang biasanya aku lakukan rame-rame, kini aku lakukan sendirian. Me time yang berkepanjangan. Usia 20-an ke atas nggak main-main ya ternyata, satu persatu teman fokus mengejar yang belum  tercapai dan yang sudah terkejar. 

      Sedangkan aku masih bingung mau jadi apa? Aku rasa dari awal memang salah jurusan. Sekarang pengen menyeriusi hal sesuai minat. Menyeriusi kamu contohnya hahaha. Becanda, maksudku aku ada kepikiran untuk menyeriusi tulisan yang aku buat tapi takut mengalami penolakan, dan segala ketakutan yang wujudnya belum terlihat, yang biasa kita sebut cemas.

"Percaya nggak setiap manusia saling terhubung?" Ucapmu seorang pemilik hape bernomer 20, sambil membaca bio instagramku
"Harus dijawab tuh, percaya nggak?"
"Iya, percaya" Ucapmu

      Aku percaya, kamu, kita, mereka semua mempunyai koneksi yang nggak bisa dijelaskan dengan teori. Maka dari itu pengen banget keluar dari zona nyaman. Hari itu aku putuskan untuk berpergian sendiri. Tujuanku ke tempat gelato karena kota Solo sedang panas-panasnya. Duduk di kursi yang pernah ku duduki, begitu duduk nggak lama hujan turun. Duh, moment kayak gini seharusnya aku nikmati dengan dirinya


      Tiap hujan yang turun jadi mengingatkan aku akan yang dahulu, dengan umur yang masih belasan mencoba pergi jauh dari keluarga. Sini mendekat, biar aku ceritakan.


Liburan Tempat Mbah Wedok


    Tiap kampus pasti ada dong libur semester, begitu juga di kampusku. Liburan ganjil biasanya aku pergi ke tempat mbah di Blora, gini-gini aku blasteran Jawa-Kaltim. Sedangkan ketika liburan semester genap, aku balik Samarinda. 

    Waktu pertama kali aku ke tempat mbah di Blora, aku samaan dengan Selvi teman satu kamarku, kami hanya beda desa jadi naik bisnya sejalur. Sampai di sana, bener-bener lokasinya di desa, sepanjang perjalanan menuju rumah mbah hanya terhampar sawah.

    Sampai di rumah mbah, aku disambut hangat, dihidangkan makanan, dan aku kaget, sebelah rumah langsung kandang sapi dan ayam dong. Tetangga juga bergantian berdatangan untuk melihatku. Di sini listrik sudah ada, tapi tetap aja rumah mbahku remang-remang dan cenderung seram ketika malam. 

    Pernah waktu itu ketika bucinku masih 100% kepada YL, yang sekarang sudah jadi mantan. Jadi si YL ini nelpon, karena jaringannya agak susah di desa, aku keluar rumah dong, duduk di sebuah kursi panjang dari kayu, tubuhku bersender pada dinding rumah. 

    Di tengah perbucinan ini aku melihat lurus ke arah jalan yang agak jauh dari rumah mbahku. Samar-samar ada kain putih terbangnya pelan, kayak jemuran yang ditiup angin. Jemuran bukan sih? dengan mata yang masih memperhatikan baik-baik kain itu, dan menghilang gitu aja. Fix tadi itu mbak kunti. 

    Nggak ngerti ya, mungkin karena efek kasmaran-kasmarannya aku malah nggak takut sama sekali. Malahan masih betah telfonan di depan rumah mbah dengan lampu remang, bahkan nyamuk pun udah bawa pasukannya untuk menyerang aku. Btw, kalau mba kunti bisa ngomong langsung ni, pasti dia akan bilang Udahlah, manusia jaman sekarang kalau dah jatuh cinta jadi bego, aku mau resign aja jadi hantu. 

    Sebulan di tempat mbah rasanya menyenangkan, aku di ajak ke kebun nyari makan untuk sapi, main air di kali, hidup seperti Lary asik juga. Nggak kerasa tiba waktunya untuk aku balik ke Solo, mbah bawakan aku beras setengah karung, kacang tanah setengah karung, uang saku, dan cemilan lainnya. Surga anak kos banget kan? Aku pun berjanji, semester ganjil mendatang aku akan berlibur ke sini lagi. 

    Tapi ternyata, kebahagiaan itu sifatnya semu gengs. Ketika semester 3 aku ke tempat mbah lagi sendirian.Temanmu Selvi ke mana? Jadi kami sudah tidak satu visi dan misi, udah jalan masing-masing. Karena aku sendirian ke tempat jauh, diwanti-wantinya aku sama mamaku, katanya "Kamu jangan sampai tidur ya, nanti kelewatan. Habis ini kamu minta kernetnya untuk kasih tau naik bis apa selanjutnya". 

    Kebiasaanku itu bisa tidur dimana pun, apalagi kendaraan umum, sering banget tidur pulas. Aku pun berpikiran juga akan begitu, ternyata bis yang aku naiki adalah bis tayo. Kalian pernah kan lihat video di instagram pengendara bis yang sering backsoundnya lagu tayo, dan nyetirnya ugal-ugalan? Nah, ituuuu, aku naik itu. 

    Aku yang duduk paling belakang berpegangan pada besi di dekat pintu masuk, sedangkan aku lihat koperku terangkat, bergerak ke kanan dan ke kiri, saking dahsyatnya. Aku nggak bisa nolong koperku, aku sendiri pun perlu ditolong.

    Tiba dimana bisku berganti, untuk melanjutkan perjalanan. Tapi stopnya itu nggak di terminalnya, ketika dua bis ini saling bertemu di tengah jalan, mereka begitu aja memindahkan koperku, dan aku seakan syuting adegan-adegan film gitu yang naik bis dalam keadaan berlari kecil kemudian dengan kedipan mata sudah berpindah ke bis yang berbeda. Cepat buangettt pindahnya. Nyawaku pun masih tertinggal di bis yang sebelumnya.

    Aku mencoba bernafas normal. Sial, ternyata bis ini lebih tayo pangkat 2 dari yang aku naiki sebelumnya. Kalau yang tadi koperku hanya terangkat, bergerak ke kanan dan ke kiri, kali ini bisa koprol. Belum lagi kalau bis ini ketemu bis yang berada di depannya, balapan tahu mereka. Ini aku dalam rangka pulang ke tempat mbah? Atau berpulang ke rahmatullah? Entah doa apa yang aku panjatkan hingga bisa selamat sampai tempat tujuan. 

   Aku yang turun di pinggir jalan sudah ditunggu oleh Paklek-ku. Seperti tahun sebelumnya, sepanjang jalan menuju rumah mbah, hanya sawah yang aku lihat, dan begitu sampai tempat mbah aku disambut hangat. Basic banget lah.

     Keesokan paginya mbah sudah membuatkan sarapan, dengan lahap aku makan. Kata mbah "Ndok, di makan, habisin aja. Nanti nggak ada yang makan lagi". Akhirnya dengan senang hati aku habisin, tapi aku terkejut ketika menyendok satu potong telur dadar. Asin banget guys, tapi nggak boleh komentar, masih syukur udah dimasakan.

     Tapi efeknya lidahku kebas asli, makanan yang lain jadi nggak kerasa asinya. Untuk informasi aja ni, tekstur garamnya tuh garam yang butiran, bukan garam halus. Kayak minum air laut selautan. Lalu karena disuruh habiskan, aku mencoba lagi menyendok potongan telur dadar yang lain.

    Aneh, kok yang ini nggak ada rasa asin sama sekali? Kayaknya mbah hanya menaburkan di satu sisi aja. Lain kali aku harus lihat mbah masak telurnya, biar nggak terjebak lagi. Apa emang mbah sengaja? Astagfirullah, nggak boleh seuzon Bunga.. Bunga.. hehehe.

   Setelah sarapan mbah menelpon mamaku, pake bahasa jawa yang sedikit aku ngerti artinya, isi percakapanya aku terjemahkan indo aja ya.
"Halo, Rat. Ini Bunga banyak banget makannya, mbahnya nggak kebagian" Ucap mbahku

   Rasanya jleb. Kan tadi mbah yang suruh habiskan, padahal dia masih kebagian juga kok, apa salahku ya Rabbi? Aku nggak mau salah lagi, besoknya aku bikin strategi. 

    Pagi itu aku bangun kesiangan, maklum insom ini medarah daging menyatu dengan DNA. Mbah langsung mengajak untuk segera makan.
"Makan yang banyak ndok, tambah lagi" Ucapnya
"Nggak mbah, udah kenyang segini aja cukup" Balasku

    Setelah makan, mbah mulai menelpon mamaku lagi, isi percakapannya gini
"Halo Rat, Bunga dimasakan nggak dimakan, makannya dikit aja"
    Ya Allah, serba salah. Ini tuh ibaratnya kayak kamu ingin melepaskan dia, tapi dia nggak berusaha menahan, dan ujung-ujungnya aku sakit sendiri hahaha. Malah curhat. Tapi wajar sih, namanya juga mbah, udah tua. Aku sebagai anak muda seharusnya lebih sabar dan bijaksana. 

    Rumah mbahku masih pake dinding anyaman, dan sampai kamar mandinya gitu. Aku sering banget baru mandi jam 5 sore, biar bisa mandi di tempat budeku. Jadi aku bilang ke mbahku gini
"Mbah, aku mandi di tempat Bude aja ya"
"Mandi itu jam 3 an biar masih terang" Ucap mbahku
 
     Padahal aku sengaja ulur waktu sampai malam, biar bisa mandi tempat bude, soalnya mau mandi di kamar mandi mbah malu eh, terlalu nyerawang. Pernah waktu itu aku mandi di kamar mandi mbah, tiba-tiba mbah masuk dong ngambil sesuatu, aku kaget lah kok bisa masuk. Ternyata bisa dibuka pintunya dari berbagai sisi. Jujur aku trauma hahaha.

    Dan datanglah hari puncaknya mbah marah besar ke aku. Hari itu Blora sedang panas-panasnya, aku di datangi anak tetangga 2 orang, masih SD kelas 5 dan kelas 6. Mereka bilang
"Mba Bunga, anterin kami ke kota dong, beli paket internet"
"Naik apa dek?"
"Kami pinjam motor tetangga"
"Udah izin kah? Soalnya takut kalau kenapa-kenapa entar aku yang disalahin"
"Udah kok mba, tinggal pake aja"

    Yaudah, aku sambil menyelam minum air. Kebetulan aku pengen banget mie ramen, dan indomaret itu adanya di kota, sekalian mengantar mereka. Kami gonceng 3, like cabe-cabean. Sampai di kota aku beli ramen, mereka beli paketan, lalu aku mengajak mereka untuk pulang aja, soalnya langit sudah mendung, padahal tadi panas pol.

    Di perjalanan pulang, aku mengisi bensin dulu full. Kemudian ketika melanjutkan perjalanan nggak lama hujan rintik disusul hujan deras. Kami berteduh sebentar. Ku perhatikan jalanan, tanah liat ini menjadi becek serta licin. Wah gawat motor orang kotor nih.

   Setelah agak rintik, aku melanjutkan perjalanan, dan sesampainya di tempat, segera aku mengembalikan ke rumah pemilik motor. Pemiliknya ramah, pertanda akan baik-baik saja. Tapi begitu aku membuka pintu rumah mbah, ada mbah yang berdiri di belakang pintu, sambil berkata menggunakan bahasa jawa tanpa spasi, bahkan nafas aja enggak kayaknya. Tapi aku nggak ngerti artinya, karena saking cepatnya. Aku nggak sempat translate. Jadi mbahku ini marah besar, tapi aku nggak sakit hati sama sekali. Orang nggak ngerti. 

    Tapi dari yang aku tangkep dikit, kayaknya mbah marah sebab aku pinjam motor tetangga. Lagi-lagi mbah lapor ke mamaku, dan aku pun menjelaskan ke ortu bahwa bukan aku yang salah, tapi karena aku yang paling besar, jadi menanggung tanggungjawab yang lebih besar. 

    Keesokan harinya gosip aku meminjam motor tetangga ini tersebar sekampung. Selama ini aku cuman lihat adegan ini di film azab. Dimana si peran utama di gibah oleh tetangganya, kemudian satu kampung jadi tahu. Rasanya nggak enak sumpah, kalau disuruh pilih mending naik bis tayo seharian atau di gibahin? Aku mending pilih naik bis tayo seharian.

    Aku pun memutuskan untuk pulang lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Aku balik ke Solo menggunakan bis tayo lagi, tapi kali ini aku sedikit bisa menikmati perjalanan. Mungkin ini yang namanya terbiasa. Jujur aku trauma dimarahi mbah. 

    Saking traumanya, setelah kejadian itu beberapa bulan kemudian aku bermimpi menaiki motor, aku menyadari daerah ini kayak nggak asing. Eh ini daerah tempat mbah, aku langsung berhenti kemudian menstandarkan motor, dan berlari pulang ke Solo. Trauma sampai ke mimpi.

    Seru juga, disela mencicipi gelato diselingi melihat hujan yang turun, terbayang hal lucu yang sudah dikubur lama. Mbah apa kabar ya? mungkin sekarang udah lebih nyaman dengan rumah yang telah direnovasi.


Mau Jadi Apa?


   Sekarang aku sendiri, sahabat-sahabatku sudah berada di kota yang jauh. Di awal tahun pun disambut dengan kegagalan. Aku gagal tes Apoteker, rasa sedih ada dikit, tapi nggak bikin sedih banget. Dan aku nggak pernah nyesal. Dari awal aku balik ke kota Solo di bulan Januari, aku bertemu teman-teman baru. Pernah nggak sih kalian baru ketemu orang, langsung ngerasa nyambung dan kayak kenal lama? Itu yang aku rasakan sekarang.

    Oh iya, gelato rasa dark chocolate + strawberry, rekomen deh untuk kalian coba. Hujan bertambah deras. Aku mau jadi apa ya? Pertanyaan itu muncul gitu aja di kepala. 
     
    Apa jaga lilin aja ya? Pernah aku bahas pemilih hape bernomer 20.
"Pengen kaya tapi nggak mau kerja gimana ya?" Ucapku
"Ngepet aja gimana? Aku jaga lilin, pembagiannya 70% aku, 30% kamu" Lanjutku
"Nggak adil lah, aku yang bertarung nyawa, kamu enak tinggal jaga lilin"
"Jaga lilin juga perlu keahlian tahu"
   Akhirnya nggak ditemukan kesepakatan.

    Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam dari pagi sampai pagi untuk nulis, tapi aku nggak sanggup kalau disuruh belajar selama itu. Kalian tahu? aku kalau belajar kelamaan botak alisku. Tak jelaskan. Ketika belajar nih, tangan kanan kan buat pegang  pulpen, tangan kiri pada orang kebanyakan dibuat untuk memangku dagu kan? nah, kalau aku buat melintir alis, jadi ada bagian alis yang rontok tiap aku belajar. Untung aku cewek, jadi bagian yang mengalami kebotakan bisa ditutup pake pensil alis hahaha.

Menyeriusi yang main-main.
Suatu saat akan bertumpuk-tumpuk tebal.

Senang sebab "Kaktus Berduri" lebih dominan.

Terlebih didukung jiwa yang sangat ingin.

Masih berserakan kata yang entah dimana.

Akan aku kumpulkan main-main jadi serius.
    Kosku juga masih sama, bedanya jumlah hantu di kamarku jadi nambah. Oh iya, ngomong-ngomong kos-an aku jadi teringat waktu semester 7, saat itu sudah jadi penghuni senior lah bisa dibilang begitu. Minggu pagi aku sudah bangun, bukan karena rajin, tapi karena lapar. Untuk keluar kos ada gerbang besar banget yang harus dikunci 2 kali, soalnya kalau dikunci 1 kali, masih bisa dibuka gerbangnya. 

    Ah, dekat aja warungnya, kunci 1 kali aja, lagian bentar. Aku pun bergegas ke warung Bufat, anak USB pasti paham letaknya dimana. Aku memilih untuk dibawa pulang, dan ketika berjalan pulang aku lihat suaminya mba Lilis (penjaga kos) sedang berdiri di depan gerbang, tapi hanya mengamati saja. 

    Aku yang ingin masuk kos pun, mau nggak mau berteguran
"Misi Mas"
"Ini gerbangnya nggak dikunci mba"
"Oh gitu?" Ucapku sambil memasang wajah lugu
"Iya, soalnya dikunci 1 kali, kalau 2 kali baru terkunci mba" Ucapnya
"Ini mau dilihat di cctv dulu, siapa yang terakhir kali keluar" Lanjutnya
Duh, mas ini sedang berbicara dengan pelaku, ucapku dalam hati
"Oh yasudah mas, saya mau masuk"
    Aku pun buru-buru masuk kamar, kunci pintu, dan berdoa sama Tuhan untuk pindahkan aku ke mars.


Hujannya Belum Reda


    Aku suka hujan. Kenapa? Karena diantara derasnya dia menghempaskan diri, terselip banyak memori berlawanan arah jarum jam, katanya  jangan sampai dilupakan. Sebab itu, hujan hadir sebagai tanya bahwa kita tidak pernah menjadi pelupa.

    Masih terjebak di tempat ini, dengan hujan yang perlahan mereda. Aku nggak bisa hidup jadi manusia normal yang alurnya mudah tertebak. "Sukses ya buat kita" Ucapnya. Gimana cara untuk sukses? Setelah hujan berhenti, aku pulang ke kos. 

    Tengah malam aku berpikir, selama ini hidupku terlalu bergantung dengan orang lain. Aku pengen keluar dari zona nyaman. Berusaha mengenal banyak orang baru, menulis kisah yang aku lihat. Dimulai dengan aku me time ke Solo Grand Mall sendirian, dan foto box sendirian. Aku naik ke lantai food court dan makan juga sendirian, ternyata nggak seburuk yang aku kira. Ana pun ku suruh menyusul, biar dia ngerasain me time. Eh, tapi jatuhnya bukan me time lagi deng.




    Dan seperti yang sudah-sudah, Ana pun pergi ke asalnya. Rahmatullah? Bukan, tapi inginku gitu sih, dia nyebelin sih hidup di dunia. Aku dah mengusulkan dia untuk hidup dan menetap di Kota Saranjana, tapi malah balik ngatain aku, heran.

    Pada tangal 1 Februari aku terbangun setelah hampir mati suri. Aku terbangun jam 4 sore, tiba-tiba ingin me time lagi. Langsung tanpa aba-aba aku mandi, dandan, nggak lupa bawa laptop. Tujuanku ke Solo Grand Mall lagi, mau nongki di lantai atas, tempat aku ngerjakan skripsi waktu jamannya skripsian.

    Sampai sana aku mampir ke BreadTalk, pesan croissant roti kesukaanku. Padahal awalnya aku nggak mau beli, tapi takut kepuhunan. Yang nggak tahu kepuhunan, sek aku jelaskan.

    Jadi di kalimantan itu ada istilah kepuhunan, kalau sudah pegang makanan harus disantap walaupun sedikit, apalagi kalau mau perjalanan jauh. Dan kita pun kalau punya makanan harus bertawaran atau memberi santap ke orang yang ada di sekeliling kita. Tujuannya apa? Biar kita nggak kenapa-napa di jalan, dan makanannya pun nggak jatuh. Kalian pikir ini mitos kan? 

    Awalnya gitu, tapi ini masih berlaku di aku gengs. Pernah waktu semester 5 kami kelompok D sedang pratikum sore hari. Disela-sela pratikum biasanya anak-anak yang lain beli gorengan untuk ganjal perut, karena sebelumnya nggak ada jeda istirahat. Tapi aku malas ke kantin, kebetulan si Rambu sedang makan lumpia dengan lahap, dalam hati aku bilang Pengen santab ah, eh tapi kayaknya Rambu lapar banget deh, nggak jadi kalau gitu. Nggak lama lumpianya jatuh ke tanah dong. Aku merasa bersalah, maafkan aku Rambu.

    Contoh lainnya, ketika aku ngebatin pengen sesuatu, tapi nggak sempat aku wujudkan, biasanya aku jatuh. Makanya pas lewat BreadTalk aku langsung beli tanpa mikir cap,cip,cup. Dari pada aku jatuh di keramaian? Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi~ ~  Malah nyanyi.

    Roti kini sudah ditangan, aku naik ke food court, dan tumben jam 6 rame banget. Pas aku lihat hari di hape, ternyata sabtu malam minggu. Setelah memesan makanan, aku bingung cari tempat duduk, karena full. Akhirnya aku join aja sama mas dan mba yang lagi malam mingguan. Ganggu aja Bunga ni.

    Mba dan masnya baik banget ternyata, aku nggak salah pilih bangku. Setelah itu aku beli gelato dan naik ke lantai paling atas, tempat yang aku bilang tadi. Aku mulai membuka laptop dan menulis, tapi aku nggak fokus, karena depan, belakang, kanan, kiriku semua orang pacaran. Peringatan untuk diri sendiri, jangan pernah keluar di malam minggu sendirian!.


    Ajaib ya Kota Solo. Senjanya konsisten, selalu menawan. Duduk sambil melihat senja di daerah pasar gede seru juga. Ada permohonan dan doa yang dipanjatkan di sini, begitu ingin semua tercapai dan tergapai. Semoga dia yang berada dimana pun, merasakan doa yang ku panjatkan : Kamu cuman perlu begini, jadi menyenangkan bila bertemu, jadi misterius saat berjauhan. Sukses untuk kita.






Udah dulu ya, ngantuk mau tidur, udah jam 6 pagi di sini, kapan-kapan kita ngobrol lagi.

















Comments

  1. Sendiri itu nyaman
    Berdua itu menyenangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dewi Saraswati jadi penghubung.
      Dewi Saraswati tahu bahwa, kita saling mencari

      Delete

Post a Comment

Komentar dong, aku mau tahu ni perasaanmu setelah baca tulisan ini

Popular posts from this blog

Apa itu prepare?

Perkenalkan Namanya Masalah

Katakan Putus