Halu
Genre : Daily
"aku ngejauhin orang-orang jahat"
"berarti aku jahat kah Bung?"
Aku menjauhi kamu (lagi)
Pernah banget musuhan sama orang teramat lama, sekitar 6 tahun. Kemudian dikumpulkan lagi saat usia yang telah dewasa, pola pikir yang juga berbeda. Masih manusia yang sama dengan nama lengkap Bunga Lia, kamu pun begitu, masih tidak berubah.
Sifat kita teramat sama, mudah bosan, cuek, baik, akan jahat bila dijahati, susah memaafkan, gengsian, dan yang paling parah, menunggu salah satu diantara kita mengawali semuanya. Aku teramat bosan mendengar namamu yang selalu disangkutpautkan denganku. Dan aku benci ketika namaku bersanding terus menerus dengan namamu.
Aku berpindah pijakan agar tidak menginjak pulau yang sama. Aku tidak melihatmu. Sesuai rencana, tidak ada lagi kudengar orang menyandingkan nama kita berdua. Aku juga tidak memikirkanmu barang sedetikpun.
Pada perputaran jam dengan tempo yang relatif lama, kamu telah memindahkan pijakan. Kini kita berada pada pulau yang sama. Rentang waktu sedikit mempersilahkan untuk mengungkit, berujung pada moment nostalgia. Tapi pada akhirnya rasa "pernah" ini menyeruak kembali.
Jalur kereta membawamu pada sebuah kota. Ku Perkenalkan ini namanya Kota Solo. Sekarang pijakan kita sama. Langkah yang kita buat seirama, jarak hanya menjadi sejengkal. Aku melanggar janji, seharusnya aku tidak memberitahu pada siapapun, tapi aku terlanjur bercerita pada Solo.
Solo, dia kedinginan karena tidak membawa jaket tebal. Malam itu, Tawangmangu kejam, 17 derajat sudah cukup menyiksa.
Solo, baru aku ketahui dia tidak suka minum pakai gula. Dulu awal-awal aku ke Solo juga seperti itu.
Solo, tangan dia belang, seakan memperlihatkan hasil kerja kerasnya.
Solo, warna yang aku lihat, berbeda sudut pandang dari apa yang dia lihat.
Walaupun banyak kode yang merujuk pada kemungkinan. Namun tiap malam aku selalu takut perihal sebenarnya hanya aku yang memupuk harapan berlebih. Yang membuat jadi luar biasa itu "harapan pada pengharapan". Apa yang kamu lakukan, bisa saja tidak sesuai harapan yang aku tanam.
Raga yang tadi hanya berjarak sejengkal, kini berangsur menjauh, dan pijakanya kembali di bagian barat Jawa. Kini seakan terulang pada 6 tahun lalu. Bisa-bisanya rasa benci yang sudah aku redam bertahun-tahun, kembali lagi pada pemiliknya.
Seiring perputaran waktu, hal-hal yang tadi terasa menyakitkan, menjelma menjadi sebuah karakter yang hidup, aku menyebutnya "tameng perlindungan diri". Seperti ini konsepnya : Aku menjauh, kamu mendekat, aku mendekat, kamu menjauh. Magnet adalah definisi antara aku dan kamu. Pada sisi kutub saling menempel, sisi kutub lainnya saling menolak.
Sikapku masih sama, sikapmu masih sama, kalau begini terus, kita akan jadi musuh abadi. Kita terasa cocok menjadi musuh. Manusia yang lain akan heran melihat kita akrab, dan terasa normal saat kita bermusuhan.
Mengisi kekosongan dengan menerka apa maksud Tuhan, diselingi menunggu jawaban masing-masing individu.
Solo, aku benci orang ini.
Samarinda, aku benci orang ini.
Kini lengkap, dua kota yang membuatku nyaman, memiliki kesamaan. Sama-sama membenci orang yang sama. Aku masih menunggu ending dari ini semua. Cerita yang mengambang, tidak akan seru bila tidak diselesaikan baik-baik.

Perkenalkan namanya Halu. Seorang manusia yang suka berlalulalang tapi nggak pernah singgah lama
ReplyDelete