Si Tukang Gosip
Genre : Daily
"tahu nggak si dia itu kalau di kos suka pakai pakaian pendek-pendek"
"ih nggak sopan banget ya"
"iya deh, belum lagi kalau dia jalan itu suka pakai makeup tebel-tebel"
Aku suka bingung sama orang yang semacam ini, suka membicarakan keburukan orang, dan terkadang apa yang dibicarakan itu cuman sebuah opini, yang dengan bodohnya orang yang dia ceritakan itu percaya dengan apa yang dia katakan.
Cukup banyak kita liat betapa banyak orang yang terlalu "Kepo" urusan orang lain, sejatinya kalau kepo terus dia mau membantu, ya nggak masalah sih, tapi kebanyakan orang cuman ingin tahu apa yang terjadi sama seseorang, selebihnya dia bakalan cerita lagi dengan orang lain, yang bisa saja cerita yang tadi awalnya cuman "simple" bisa berubah jadi "wah". Sebenarnya tanpa di sadari banyak orang yang kayak gini hidup, tumbuh, dan berkembang di dekat kita, cuman kita nya saja yang nggak sadar, kalau selama ini secara nggak sengaja mendengarkan gosip-gosip murahan.
Aku sendiri juga pernah punya teman kayak gini, sedikit cerita dulu aku punya teman yang kalau kita lagi ngumpul dia orangnya seru karena banyak cerita, di saat kayak begitu aku nggak sadar kalau dia suka ceritain orang, terlebih lagi dengan gaya bicaranya yang seakan-akan benci banget sama orang itu, otomatis dari kata-kata yang dia ucapkan aku jadi ikutan benci sama orang yang dia ceritakan, padahal aku belum kenal.
Aku masih belum sadar tu kalau dia sifatnya gini, sampai suatu satu saat kami lagi jalan bareng, masih didaerah kampus, temanku yang suka ceritain orang ini, ketemu dengan orang yang sering dia ceritain, sudah pasti dong aku rada benci ngeliat dia, karena aku udah tahu benar cerita aib si dia. Tapi yang bikin aku kaget itu, temanku ini yang sering ngomongin si dia, malah akrab banget, bahkan ketawa-ketawa nggak jelas, dari situ aku bertanya sama diri sendiri "loh kok akrab ya mereka, perasaan kalau cerita, dia benci banget sama orang ini".
Dari situ aku sebagai manusia yang masih bisa mikir karena di beri otak, aku agak menjauh dari temanku ini, karena orang kayak gini pasti dibelakang ku juga ngomongin aku, bodohnya selama ini aku jadi benci seseorang yang selama ini aku belum kenal tapi karena dengar cerita-ceritanya aku jadi ikutan benci, dari situ aku menjauh.
Aku sendiri juga pernah punya teman kayak gini, sedikit cerita dulu aku punya teman yang kalau kita lagi ngumpul dia orangnya seru karena banyak cerita, di saat kayak begitu aku nggak sadar kalau dia suka ceritain orang, terlebih lagi dengan gaya bicaranya yang seakan-akan benci banget sama orang itu, otomatis dari kata-kata yang dia ucapkan aku jadi ikutan benci sama orang yang dia ceritakan, padahal aku belum kenal.
Aku masih belum sadar tu kalau dia sifatnya gini, sampai suatu satu saat kami lagi jalan bareng, masih didaerah kampus, temanku yang suka ceritain orang ini, ketemu dengan orang yang sering dia ceritain, sudah pasti dong aku rada benci ngeliat dia, karena aku udah tahu benar cerita aib si dia. Tapi yang bikin aku kaget itu, temanku ini yang sering ngomongin si dia, malah akrab banget, bahkan ketawa-ketawa nggak jelas, dari situ aku bertanya sama diri sendiri "loh kok akrab ya mereka, perasaan kalau cerita, dia benci banget sama orang ini".
Dari situ aku sebagai manusia yang masih bisa mikir karena di beri otak, aku agak menjauh dari temanku ini, karena orang kayak gini pasti dibelakang ku juga ngomongin aku, bodohnya selama ini aku jadi benci seseorang yang selama ini aku belum kenal tapi karena dengar cerita-ceritanya aku jadi ikutan benci, dari situ aku menjauh.
Ku akui dia memang banyak banget temannya, ya apalagi kalau bukan karna dia banyak ngomong, sampai akhirnya aku dan temanku ini menjadi tidak akrab dan tidak teguran, lagian kalau dari pemikiranku "ya gak apa lah nggak berteman sama dia, toh nggak ada ruginya", walaupun aku tahu konsekuensinya nggak berteman dengan dia. Pasti dia akan menyebarkan buruk-buruknya sifatku ke orang lain, dan pasti orang yang yang dia ceritakan nanti jadi benci sama aku, padahal kenal aja nggak, tahu sifat asliku aja belum. Dan benar, aku merasakan itu terjadi dalam waktu dekat.
Jadi si Tukang gosip ini, berteman dengan salah satu temanku juga, memang aku dengan temanku nggak terlalu akrab, cuman kami saling kenal, nah dulu kalau aku ketemu temanku ini dia ramah luar biasa, dan dia cantik, jadi kalau senyum itu enak dipandang, tapi setelah tercemari dengan racunnya si Tukang gosip, dia ngeliatin aku sinis, rasanya kayak aku punya utang sama dia ?, entahlah yang dulunya temanku ini baik-baik saja, jadi benci segitunya dengan aku.
Saat itu ingin rasanya aku tarik tangan temanku ini, dan kami ngobrol berdua aja, aku ingin banget jelasin "aku itu nggak begitu", saat itu rasanya ingin juga aku bongkar omongan apa-apa saja yang si tukang gosip ini ceritakan ke aku tentang temanku, rasanya ingin ku bongkar semua, biar dia tahu si tukang gosip ini bukan anak baik-baik. Tapi aku tahan, kalau aku ngelakukan hal kayak begitu apa bedanya aku dengan dia ? , biarkan orang lain menilaiku bagaimana ?, menurut sudut pandang yang seperti apa ?, itu hak mereka. Tapi aku yakin, orang yang cerdas, akan tahu mana yang benar, mana yang salah.
Karena kalau orang cerdas pasti mikir "Kok si ini suka ngomongin orang ya ?" ,orang yang punya otak dan hati pasti bisa mikir gini, karna pada hakikatnya manusia itu berpikir logis. Mereka akan selalu bertanya-tanya "kok orang yang dia gosipin nggak pernah gosipin orang ya ?" dari situ seharusnya tahu mana yang selama ini benar, mana yang salah. Bukan karena ceritanya, coba kenali, pasti apa yang di ceritakan si Tukang gosip akan berbeda dari kenyataannya.
Saat itu ingin rasanya aku tarik tangan temanku ini, dan kami ngobrol berdua aja, aku ingin banget jelasin "aku itu nggak begitu", saat itu rasanya ingin juga aku bongkar omongan apa-apa saja yang si tukang gosip ini ceritakan ke aku tentang temanku, rasanya ingin ku bongkar semua, biar dia tahu si tukang gosip ini bukan anak baik-baik. Tapi aku tahan, kalau aku ngelakukan hal kayak begitu apa bedanya aku dengan dia ? , biarkan orang lain menilaiku bagaimana ?, menurut sudut pandang yang seperti apa ?, itu hak mereka. Tapi aku yakin, orang yang cerdas, akan tahu mana yang benar, mana yang salah.
Karena kalau orang cerdas pasti mikir "Kok si ini suka ngomongin orang ya ?" ,orang yang punya otak dan hati pasti bisa mikir gini, karna pada hakikatnya manusia itu berpikir logis. Mereka akan selalu bertanya-tanya "kok orang yang dia gosipin nggak pernah gosipin orang ya ?" dari situ seharusnya tahu mana yang selama ini benar, mana yang salah. Bukan karena ceritanya, coba kenali, pasti apa yang di ceritakan si Tukang gosip akan berbeda dari kenyataannya.
Waktu itu aku juga pernah, dengar si Penyihir/si Tukang gosip ini sudah menyebar gosip pagi-pagi, jadi si tukang gosip ini lari tu datangin seseorang, dengan suaranya yang memang kayak penyihir, dan melebih-lebihkan gestur tubuh, dia cerita nyaring-nyaring.
"eh tahu nggak, kemaren aku liat si itu ngepost foto di Instagram, sudah aku screen shoot"
"ih liat dong, mau liat"
"nanti saja, nanti orangnya tahu"
YaAllah, saat itu aku yang dengar cuman bisa berkata saja dalam hati "pagi-pagi setan sudah kerja aja", memang terdengar kasar sih kata-kataku, dan aku sadar ngomong kayak begitu, karna sudah eneg banget dengar dia ketawa-ketiwi, bangga, dan senang menyebarkan aib orang. Kalau aja teman-temannya tahu selama ini dalangnya itu adalah dia, dia yang mengadu domba, menyebarkan hal yang bohong, cuman karena tampangnya polos orang jadi nggak sadar.
Dari situ aku petik pelajaran, bahwa terkadang orang yang selama ini kita dengar kisahnya dari orang lain, keburukannya, dan segala sesuatu yang negatif, itu belum tentu sesuai dengan apa yang di sebut "katanya", karna kenyataannya, bisa saja orang yang dulunya jahat bisa berubah, kenapa nggak kenal dulu sama seseorang baru bisa menilai, dan kalau orang yang kamu kenal memang benar-benar jahat, yaudah nggak usah ngomogin kelakuan orang ke orang lain, nanti kamu sama saja kayak dia si Tukang gosip.
Kita nggak tahu, seberapa lemah dan lembutnya hati tiap-tiap orang, ada yang kelihatannya dari luar itu kuat padahal dalamnya rapuh, apalagi ini soal perkataan, yang nggak mungkin tiap ada gosip buruk tentang kita, kita harus membenarkan seakan-akan kita mau di pandang baik, karena pada dasarnya orang yang sudah benci sama kita, dia akan tetap benci, entah kita mau buat baik atau nggak, dia nggak peduli, dia akan tetap benci sama kita, jadi orang yang kayak si Tukang gosip ini, masih ada di sekitar kita, bahkan menjamur.
Dan juga mereka beranggapan bahwa "kan yang kita omongin itu fakta, bukan gosip" , yang kayak gini ini sudah tahu salah tapi masih merasa benar, gini ya yang namanya ngomongin orang itu nggak baik, sudah titik, nggak usah cari alasan lain yang seolah membenarkan hal yang salah,
Kita nggak tahu, seberapa lemah dan lembutnya hati tiap-tiap orang, ada yang kelihatannya dari luar itu kuat padahal dalamnya rapuh, apalagi ini soal perkataan, yang nggak mungkin tiap ada gosip buruk tentang kita, kita harus membenarkan seakan-akan kita mau di pandang baik, karena pada dasarnya orang yang sudah benci sama kita, dia akan tetap benci, entah kita mau buat baik atau nggak, dia nggak peduli, dia akan tetap benci sama kita, jadi orang yang kayak si Tukang gosip ini, masih ada di sekitar kita, bahkan menjamur.
Dan juga mereka beranggapan bahwa "kan yang kita omongin itu fakta, bukan gosip" , yang kayak gini ini sudah tahu salah tapi masih merasa benar, gini ya yang namanya ngomongin orang itu nggak baik, sudah titik, nggak usah cari alasan lain yang seolah membenarkan hal yang salah,
Dulu aku juga termasuk "Generasi Tukang gosip", tapi dengan otak dan hati yang di berikan Allah, aku tahu mana yang benar dan yang salah, mending aku jauhin aja, makanya aku kurang tertarik untuk ngumpul dengan banyak-banyak orang, karena apa ? pasti ujung-ujungnya itu gosipin orang. Aku tulis kayak gini juga bukan karena ingin gosipin orang atau gimana - gimana, aku cuman memperingatkan, dan memberi tahu, kalau diluar sana, ada loh orang kayak gini, dan ini juga aku tulis bertujuan untuk tahu mana teman yang harus didekati, dan dijauhi, karena juga dulu aku pernah mengalami, betapa pedihnya gosip-gosip murahan itu menyebar, sampai rasanya untuk memaafkan itu nggak mungkin, tapi dengan pikiran yang dewasa aku bisa memaafkan, walaupun yang membuat gosip tidak merasa punya salah, dan sebaiknya kalau ketemu orang kayak gini, nggak usah di ladenin, karena dia akan malas cerita sebuah "Gosip" kalau yang merespon ceritanya dengan biasa saja, kalau kamu ngeladenin dia dengan bertanya dan terus "Kepo", dia akan semangat.
Comments
Post a Comment
Komentar dong, aku mau tahu ni perasaanmu setelah baca tulisan ini