Patah Hati itu ENERGI

Genre : Daily
   
   Ketika kamu nyaman sama seseorang, dengan impian yang disebutkan dari mulut manisnya, impian-impian masa depan yang dia ciptakan sendiri di imajinasinya. Dengan bodohnya aku terhanyut dengan imajinasinya juga, berharap suatu saat impian yang dia rakit itu terwujud nyata, nyatanya aku salah. Dia pergi tanpa memikirkan betapa kerasnya aku melupakannya, berhari-hari aku menangisinya, butuh waktu lama untuk aku bangkit lagi, mungkin karena aku yang benar-benar belum bisa menerima keadaan kalau "impian" itu cuman "mimpi", dia benar-benar bukan seperti orang yang aku kenal.

Aku nggak tahu kenapa ?



   Aku berusaha buat menahannya tapi percuma, itu cuman memperparah hati yang sudah retak, pedih rasanya. Tapi dia nggak tahu, seberapa besar usahaku buat melupakan, bahkan untuk nangis menjerit pun aku nggak bisa lagi, semua terasa kosong. Hal itu aku lalui berhari-hari bahkan berbulan-bulan.

   Sekuat tenaga aku cari kesibukan lain, bagiku nggak ada waktu buat diam, bahkan dengan berdiam diri pun aku bisa teringat doi lagi, aku memang bodoh, memikirkan seseorang yang sudah menyakiti, bahkan aku bertanya-tanya, apa yang membuatku selama ini selalu sedih ketika memikirkannya, mungkin karena hilangnya seseorang yang selalu Menelefonku, menanyakan ketemanku ketika aku kehabisan paketan, mengLine ku, memberikan dukungan, atau suara dia baca surah-surah pendek Al-Quran di telefon, sebenarnya simple tapi terkenang, mungkin ini salah satu penyebabnya. 

   Tiap hari aku lewati tanpa hal itu, semua kesibukan aku coba, namun berakhir dengan tangis di tengah malam, hal itu terjadi setiap malam, aku pikir aku sudah mulai gila, karena merindukan seseorang yang tidak merindu, menunggu seseorang yang tidak ingin ditunggu.

   Aku bangkit dari keterpurukan, sampai tiba disuatu titik, kalau patah hati yang aku alami adalah Energi, saat itu aku cari di Google apa arti energi, kemudian aku menyimpulkanya yaitu sesuatu yang dapat diubah bentuknya, namun tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan

Lantas kenapa aku nggak manfaatkan energi itu saja ?


   Hal ini bagiku tamparan halus, kenapa aku nggak manfaatkan saja rasa "Sakit hati" menjadi "Energi", nah saat-saat kayak gini, pemikiranku jadi lebih tergerak untuk menyalurkan ke suatu tempat atau wadah agar aku perlahan bisa melupakan dia, dan mendapatkan hobby yang aku suka.

   Akhirnya, aku buka laptop dan Handphoneku, ternyata selama ini aku banyak menulis cerita, yang rata-rata pengalaman pribadi, dan kebiasaan itu sudah aku lakukan ketika aku SD, dan ketika aku kuliah, aku bukan anak hits yang suka berfoya-foya habiskan duit orang tua, disaat-saat kayak begitu aku memilih menulis cerita pendek yang sebenarnya kisah nyata, berjudul "BAPER" yang hanya aku share ke grup Line bernama "SAJE", setelah aku berpacaran pun aku tuangkan semua dalam tulisan, tapi respon doi biasa saja, tidak ada dukungan untuk aku. Makanya saat itu aku malu untuk menshare ceritaku ke orang lain, aku takut respon mereka sama seperti doi.

   Bakat menulis ini aku pendam cukup lama, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mulai buat Blog yang baru, untungnya respon dari sekelilingku juga bagus, sehingga aku di sarankan oleh guru SMP ku yang bernama ibu Triniel Hapsari untuk ikutan menulis di Kompasiana, aku juga menulis ceritaku di wattpad dari situ perlahan aku melupakan dia dan mencintai hobbyku ini. Ya aku tahu tulisanku belum ada apa-apanya dari Blogger yang terkenal, atau seorang penulis berbakat lainnya, aku juga masih belajar, setidaknya aku bisa membuat rasa patah hati ke jalan yang positif, karena kalau saat itu aku terpuruk, mungkin lama-lama aku bisa lupa caranya untuk tersenyum.

   Aku nggak mau seperti kebanyakan orang yang menggunakan rasa patah hati ke jalan negatif, seperti cepat-cepat mencari pengganti dari pasangan terdahulu, aku bukan tipe yang mudah melupakan, mungkin sampai sekarang aku butuh waktu.

  Terimakasih  untuk si "DOI", telah memberikan aku "Energi", semoga kamu bahagia dengan pasangan yang baru. Kalau bukan karnamu, mungkin aku nggak bisa seperti sekarang. 

   Inilah caraku memanfaatkan energi dari patah hati ke jalan positif, nggak ada alasan untuk selalu terpuruk sama kesedihan yang cuman ilusi, jangan mau di perbudak hati, kamu juga butuh otak untuk mengontrol hati, nggak ada faedahnya untuk mencaci maki seseorang yang pernah singgah, kedewasaan terlihat ketika kamu menghadapi masalahmu sendiri, patah hati bukan segalanya, menurutku yang lebih sakit dari patah hati itu LDR dari orang tua.



Edit :

Kamu alasan aku menamai blog ini Kaktus Berduri, terimakasih D telah memberikan rasa sakit, mungkin kalau saat itu kamu tidak memberikan rasa sakit, aku tidak bisa seperti sekarang.

Comments

Popular posts from this blog

Apa itu prepare?

Perkenalkan Namanya Masalah

Katakan Putus