Raka


     Kok aku ini manusia ya? Kok ya enggak jadi bebatuan gitu, kok bisa ya aku ada nyawa terus di kasih fisik dan bisa ngendalikan tubuh aku sendiri? 

"Kagak udah mikir yang aneh-aneh dah lu nyet" mungkin kalau ada Raka di sini, bakal di bully habis-habis-an dah, dikatain gila juga pasti.
"Yang mau sama lu paling gw doang" ucapnya sombong
"Lah enak aja, gini-gini banyak yang suka tahu"
"Yaa itu mah karena belum tahu sifat asli lu aja"

      Aku pikir Tuhan memberikan aku alur di dunia ni sengaja ber-genre horor, ternyata aku salah, hadirnya Raka dihidupku malah menambah genre yang awalnya horor, menjadi absurd.

       Dia manusia yang aku temui di tahun 2016, ya ku akui, sampai detik ini pun aku nggak pernah nyesal pernah ketemu sama dia. Kita berdua nggak saling kenal, beda angkatan, beda jurusan, tapi satu kampus. 

      Sampai detik ini, aku masih menyukai orang yang mengajakku kenalan di tahun 2018. Seseorang yang sama kutemui di tahun 2016. Ni kalau si Raka baca bisa besar kepala dia.

    Celana jeans robek, rambut bergelombang acak-acakan, sedikit gondrong, stelan kemeja kotak-kotak yang dibiarkan nggak terkancing, dalamnya pake kaos polosan, tangan yang banyak gelang, serta satu gelang kaki di sebelah kiri.

"Idaman" ucapku yang duduk disampingnya
"Idamannya siapa?" Tanyanya sambil melirik

      Sayangnya 2018 bukan waktu yang tepat menurut Tuhan, aku dan kamu saling menjauh. Kita di jalan masing-masing. Raka ku kenang sebagai manusia yang sempurna di mata aku.

     Hampir setiap bulan aku mengunjungi Raka, iya tempat dimana dulu kami pernah duduk berdua. Menyalurkan rasa rindu yang perlahan jadi kebiasaan.

     Raka pun menjelma wujud, menjadi kenangan. Kebiasaannya masih ku lakukan, tapi bedanya nggak bareng dia lagi. 

"Raka, di mana? Di sini hujan, bagaimana kabar jaketmu?" Doa-doa dan air mata pun terdengar di langit sana.

    Berjalannya waktu, keadaan membaik. Rasa yang tadi terasa menyiksa perlahan juga sembuh, Raka pun hanya menjadi masa lalu yang indah. 

   Hidup baru, dengan jiwa yang sama. Aku tahu risikonya memulai hidup baru adalah kehampaan. Beberapa orang pernah ku temui setelah Raka menghilang. 

"Nanti kita ke HeHa sky view dek, tempat baru itu di Yogja" ucap si A

    Sesampainya di sana, udah sore. Aku dan dia sama-sama melihat matahari terbenam, viewnya bagus, tapi aku pernah sama Raka lihat matahari di ketinggian, lebih bagus dari ini, coba aja Raka yang ajak aku ke sini.

"Zal, kita ketempat favoritku aja, aku tiap bulan ke sana" Ucap ku

     Selama perjalanan aku mengulang obrolan seperti saat berboncengan dengan Raka, tapi tetap dia bukan Raka, perjalanan ini seakan-akan nggak sampai-sampai. Mungkin kalau sama Raka, dia bakal mencairkan suasana dan tentunya banyak tawa sepanjang perjalanan.

"Kalau kamu mau ke Tawangmangu aku bisa antar dek, tapi nggak pake motor ini" ucap si C

     Enggak, nggak bisa, terakhir kali aku bawa orang lain ke sana rasanya bosan bener, adanya malah krik-krik.

    Aku mencari Raka di diri orang lain, ya jelas nggak ada. Raka, setelah kamu pergi, rasanya benar-benar hampa, siapa pun yang mendekat nggak ada efeknya di perasaan. 

"Dek, kakak suka sama adek, tapi jangan dijadikan beban" Ucap kadal
"Yaa kan aku anggepnya temanan, jadi ya biasa aja"


"Ini perasaan kamu gimana sekarang, seneng nggak?" Ucap buaya
"Enggak bisa aja"

     Waktu itu ada kakak tingkat yang ngajak jalan keliling solo. Sepanjang jalan yang di lewati adalah rekam jejak Raka, dulu aku dan Raka keliling kota Solo nggak pake helm. 

   Raka itu spesial, hal-hal sederhana yang dia lakukan bisa banget jadi rekam jejak yang nggak luntur dimakan hujan. Hujan yang turun di akhir tahun pun nggak luput dari ingatan. 

   Semakin deras, doa yang dipanjatkan untuk keselamatan Raka juga semakin banyak. Walaupun pada saat itu hanya abu-abu yang kulihat. 

     Lama-lama Raka yang tadinya berupa kenangan, pudar menjadi sejarah. Dia usang, masih duduk manis di dalam tubuhku, tapi nggak pernah ku ketuk lagi tempat peristirahatannya. Raka juga punya kehidupan, aku yakin dia bahagia. 

     Kini hujan nggak lagi terasa menyakitkan, doa-doa yang dipanjatkan pun tergantikan, kini doa ku nggak terarah. Masuknya orang lain, tetap nggak mengeser tempat Raka. Aku hanya menyediakan tempat baru, untuk dihuni pendatang. 

    Berulang kali aku coba memulai dengan yang baru, tapi berakhir begitu aja. Perasaan sakit hati pun aku nggak bisa ngerasain. Jadi kalau mau pergi ya sudah pergi aja, nggak ada yang menahan. 

     Setelah tinggal kurang lebih 4 tahun di solo, ada saatnya aku harus melepas semua hal yang berkaitan denganku, termasuk Raka. Raka datang melalui mimpi. 

    Di mimpi itu aku berjalan menuju sebuah ruangan, perlahan aku berjalan hingga ku temukan dua orang duduk berhadapan. Salah satu orang menggunakan jas hitam, celana hitam, dan peci, satu orangnya lagi wajahnya menunduk, memakai jas putih, celana putih, dan peci yang juga berwarna putih. 

     Keduanya berjabatan tangan seakan akad nikah akan segera berlangsung, perlahan ku dekati sang mempelai pria. Dia pun menegakan lehernya

"Rakaaaa" ucapku sembari terbangun.

     Aku jadi teringat juga, tanggal 16 Maret 2020 hari dimana untuk terakhir kalinya melihat senja di Solo, barang-barang kos ku pun sudah nggak ada. Malam itu aku tidur hanya menggunakan kasur yang nggak beralas, bahkan nggak menggunakan bantal, kamar kos ku yang semula terang, kini begitu gelap, dan dari tempat tidur, aku hanya bisa memandangi koper serta beberapa barang yang akan dibawa untuk penerbangan besok.

     Dengan omonganku yang ngelantur aku berucap "Solo, aku pengen bicara dengan penunggu Solo, tolong dengar aku. Mulai besok, aku akan sangat jarang ke Tawangmangu, aku janji kalau suatu saat pasti bakal balik lagi, sekedar melepaskan rindu seperti biasanya, terimakasih selama ini sudah mau mendengarkan curhatanku. Aku masih ingat ketika dia mengajakku keliling solo pada waktu itu, lalu tanpa pikir panjang aku memutuskan bahwa dia adalah Soloku. Malam ini, aku memutuskan untuk meninggalkan dia di sini bersama kenangan lainnya" Aku yakin penunggu solo mendengar ucapanku.

     Tuhan memang menciptakan sebuah genre dalam hidup manusia, tapi kali ini Tuhan membuat hatiku yang dulunya sakit, menjadi sembuh. 2020 tahun dimana Raka kembali. 

    Dia masih orang yang sama, suka jail, kelakuannya aneh, kalau bully orang beh laju tanpa disuruh. Tapi itu permukaannya, semakin ku dalami, semakin tahu  sifat, karakter, dan kekurangannya, semakin juga aku mau terus disamping dia. 

   Dulu, saking seringnya aku disakiti orang, jadi kaget aja gitu pas ketemu Raka yang penyabar banget, baik, nggak aneh-aneh, bisa diajak diskusi, otaknya pinter, kerja kerasnya nggak diragukan lagi. 

Raka   : Nyet, lu mati apa?
Ungee : kagak, kecewa kan lu, gw belum mati

     Seru kali ya, kalau sampai tua sama dia, karena kalau sudah tua yang dibutuhkan itu hanya teman ngobrol. Dia pake sarung dan kaos kutang sambil ngopi depan rumah, sedangkan aku pake daster nemanin dia ngopi.

     Kalau boleh meramal, jika suatu saat kita jadi teman hidup, aku yakin tatapan dia masih sama seperti saat kita masih muda. Duduk sebelahan dengan tatapan tulus dia berkata

"Nyet, gw sayang lu, banget" 
"Aku juga" balasku

Kalau nggak sama dia, aku yang nemani siapa?




Comments

Post a Comment

Komentar dong, aku mau tahu ni perasaanmu setelah baca tulisan ini

Popular posts from this blog

Apa itu prepare?

Katakan Putus

Kontrakan Berhantu (Paranormal Experience)