Sudah Malam

Genre : Puisi

Ini aneh
Kenapa harus ditakutkan padahal belum terjadi
Kenapa harus dipikirkan padahal belum tentu

Kalau fase ini harus dilewati
Kalau fase ini wajib dijalani
Apa sudah benar? 

Dia hilangnya di bumi
Munculnya juga di bumi
Penantian yang terbayarkan

Tunggu dulu, sisa waktu sampai hayat masih panjang
Coba tunggu dulu, dengarkan dia berbicara apa
Dia bilang "jangan pernah tinggalin"

Kabulkan
Iya
Aku mengkabulkan

Dia tekankan "Sayang sama lu, banget"
Aku juga
Lalu menjadi sebuah pola

Yang kita gambar dilangit
Yang kita gambar dikertas
Katanya, itu aku dan kamu

Sebuah surat
Dibuat sekarang
Agar jadi penyelamat dimasa depan

Seru, jika benar bisa menjadi bagian dari masa depan
Masa senja, rentan
Cuman butuh teman ngobrol

Biar aku yang mati duluan
Nggak akan bisa kalau ditinggal lebih dulu
Ngobrol sendiri sebab kehilangan itu nggak enak

Kesayangan
Kalau ketemu
Nggak mau pisah

"Jangan tinggalin gue sendiri"
Iya
Iya sayang

Libatkan Tuhan, doa, perasaan
Bantu wujudkan
Masih berusaha diwujudkan

Hidup sama dia
Pasti banyak serunya
Tapi apa benar pasti hidup dengan dia?

Overthinking
Larut sudah, apa nggak tidur?
Takut mimpi buruk

Tenang, ada dia
Pejamkan mata, mulai tidur
Nggak akan mimpi buruk

Sama dia aja
Maunya sama dia
Berhentinya di dia

"Siapa yang mau kehilangan orang yang dia sayang"
Bayarnya pake kasih sayang
Lunas

Dewi Saraswati
Manusia ini yang aku mau
"Lalu?"

Sebentar
Kota Solo setiap sudutnya merekam sejarah
Putar ulang

Bahagia
Sakit
Melupakan

Hujan yang deras
Lebih deras
Lalu pamit

"Aku meninggalkan Kota Solo, dan Soloku di sini"
Tolong dengar yang menjaga Solo
Didengarkan, tersampaikan

Apa yang tersisa?
Apa yang diwariskan?
Harumnya

Pergi
Cepat pergi
Coba toleh sebentar

Dia ada
Tempatnya disitu
Nggak pernah pindah

Dingin
Mana jaket?
Demam

Sakit
Bagian mana?
"Jangan sakit"

Badan sudah di tanah kelahiran
Pikiran balik ke kota Solo
Duduk disudut kasur

"Kangen"
Sama, aku juga
"Kapan balik ke Solo?"

Sadar
Dewi Saraswati
Dia tinggal di ketinggian, damai, tenang, dan melihat kita

Bangku
"Apa kabar?"
Diam, nggak menjawab

Naik
Masih lebih tinggi
Dingin, dingin, dingin

Bertemu yang baru
Temu yang baru
Yang baru

Bertemu dia
Bukan yang baru
Suka dia

Akibat menoleh
Risiko tanggung sendiri
Nggak sendiri

Bahagia?
Iya
Sangat

Mau dikabulkan bareng?
Sudah malam
Tutup mata untuk kebaikan diri

Comments

  1. Replies
    1. Puisi Bunga untuk siapa? (Bagian 2)

      Delete
    2. Kalau sudah baca keduanya, maka akan paham maksud perpanjangan dari puisi ini

      Delete
  2. gara-gara story mu, pagi ku hari ini bukan buat tidur lagi, tapi jadi baca blog mu dan bersihin kipas angin (apasih), btw ke distract sama overthingking atau overthinking ? cuman ini typo yang gak kamu benerin.

    karena tulisan yang ini, aku juga jadi baca "puisi bunga untuk siapa ?" dan "Pikirkan Saja, Detik ke Menit ke Jam, 24/7".

    aku jadi tau 1800 mdpl itu meter diatas permukaan laut (katro dan kurang ilmu ya).

    terus kamu hebat, ingatan umur 2 tahun kamu masih mengingatnya, aku juga gitu, entah umur 2 atau 3 tahun, aku yang dikira hilang di mall mesra indah, ternyata asik ngeliatin etalase mainan wkwk.

    tapi aku gak sehebat kamu, bisa lucid dream. keren sih, ajarin gimana ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya makasih sudah diingatkan typo nya, maklum bikinnya setengah ngantuk

      Delete

Post a Comment

Komentar dong, aku mau tahu ni perasaanmu setelah baca tulisan ini

Popular posts from this blog

Apa itu prepare?

Katakan Putus

Kontrakan Berhantu (Paranormal Experience)